Minggu, 05 Januari 2014

Seharusnya Bukan "Owh"

Standard
Sebenarnya, tadi saya sudah berniat akan tidur, tapi entah kenapa, hati rasanya tidak mengijinkan mata ini terlelap dulu. Jadi saya mencoba menyiasatinya dengan menulis. Entah kenapa rasanya berat saja memejamkan mata dengan kondisi hati yang masih terganjal sesuatu, entah apa itu namanya, entah cemburu entah pula gelisah (atau lebih ngetrend kata anak labil dengan kata "galau"). Mungkin karena salah paham kali yah, dan saya terburu buru menyimpulkannya tanpa minta kejelasannya, ya, inilah manusia, kita memang mempunyai presepsinya sendiri sebelum semuanya tampak jelas. Persis seperti saat kita melihat awan dilangit. Kamu bisa melihatnya sebagai domba, keledai, gajah, atau bahkan semut padahal semuanya masih tampak samar samar.
shinta Ully Maria Silitonga
Shinta U M S

Kegelisahan ini bermula dari pertanyaan saya, bermula dari kata "eh, itu ada yang mau",lalu berujung pada "owh". Saat kata "owh" terucap, saat itu kita sebagai manusia tidak mau lagi peduli dengan apa kata orang, karena yang ada hanya sebait dan sebaris pemikiran kita saja. Seharusnya tidak demikian, kita harus lebih bisa respect dan peka, hingga nantinya kata "owh" tidak terucap dan tidak menimbulkan perselisihan dan ketegangan. Dan dimalam ini, layaknya manusia biasa, saya belajar satu hal tentang "Owh". Seharusnya saya menunggu kalimat dan kata selanjutnya dan tidak lantas membiarkan persepsi saya menguasai akan hal yang masih tampak samar samar. Hal sepele memang, tapi kita terlalu sering disepelekan oleh hal yang sepele.

Selanjutnya saya hanya berharap, keadaan membaik esok hari, dan sekali lagi saya akan berjuang melawan "jarak" yang seolah menjadi lawan yang tidak pernah mau berkawan. Bagi saya, jauh sebelum ini terjadi, "jarak" hanyalah pengalihan isu manusia yg gagal. Mereka enggan membahas masalah yang lebih subtansif hingga akhirnya bermuara pada "jarak". Bagi saya, "jarak" hanya masalah hitungan angka dikertas, hanya sebuah nominal tak beraturan dan sebuah data yang masih bisa diperdebatkan. Kita terlalu congkak jika akhirnya menyerah pada "jarak".

Terakhir untuk malam ini, terima kasih untuk hari yang menyenangkan di telpon dan di inbox FB. Kamu cantik.

0 komentar: