Akhir akhir ini, konsentrasi dan perhatian kita tertuju pada satu kasus yang cukup mencengangkan dan juga sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sekolah yang harusnya menjadi tempat paling aman dan bahkan harusnya juga paling nyaman menjadi tempat yang malah sebaliknya, bukan hanya sekedar jauh dari rasa nyaman malah juga sama sekali tidak aman. Pelecehan seksual terjadi pada anak anak TK di sebuah sekolah internasional. Miris.
Bagi saya, tindak kekerasan pada anak yang juga sama mengkhawatirkannya bukan hanya tentang pelecehan seksual saja, melainkan juga kekerasan psikist semacam bully, hinaan dan semacamnya. Bagi saya, dampak psikologinya sama sama menyeramkan, bahkan malah menurut saya kejahatan buly jauh lebih kejam karena tidak meninggalkan bekas secara fisik yang bisa dibuktikan melalui hasil visum atau sejenisnya, melainkan psikist yang akan sangat lama disembuhkan. Anak anak yang tumbuh besar karena melewati hasil bully mungkin akan menyimpan sebuah kenangan lama dan memori kelam yang mungkin saja tidak pernah bisa lepas dari ingatan mereka, dan mungkin suatu saat nanti, justru itu yang akan menimbulkan kejahatan tersendiri.
Saya, saya adalah anak yang melewati banyak bully dan hinaan sejak kecil. Sejak pertama kali saya masuk sekolah, sejak pertama kali saya mengenal manusia lain bernama teman yang sejati mungkin bukan teman. Tapi, mungkin saya masih bisa memahami dan memaklumi jika saat kecil anak anak lain yang katanya teman masih suka mem bully saya, ya, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu perbedaan dan bagaimana menghargainya. Tapi, satu hinaan yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan adalah hinaan yang datang justru dari guru saya sendiri. Seorang pribadi yang harusnya mampu memberikan sebuah dorongan dan semangat baru buat saya, justru tampak tidak lebih dari sekedar manusia tua dengan jiwa bocah.
Saya salah satu anak yang sama sekali tidak mahir dalam olahraga, satu satunya olahraga yang mungkin dulu bisa saya menangkan jika lawan orang dewasa hanyalah catur, yang lainnya ? 0 besar. Saya tertinggal untuk semua bidang olah raga, bahkan jika lompat tali juga masuk, mungkin saya juga sama sekali tidak bisa. Maka wajar jika akhirnya, hanya satu dua orang yang saya kenal dan dekat sejak kecil. Tapi, meski itu semua, saya adalah pemimpin upacara bendera sejak kelas 4 atau kelas 5 SD (saya lupa tepatnya, kapan) dan itu terus terjadi hingga saya jadi ketua Dewan Ambalan Di SMA. Dengan semau keterbatasan olahraga yang saya punya, saya membuktikan, bahwa pemimpin upacara tidak melulu harus tinggi, besar, dan berlari cepat.
Tapi ternyata, seorang guru SD mata pelajaran olahraga agak keberatan dengan hal demikian. Waktu pelajaran olahraga, saya dengan sangat lemahnya tertinggal dari 30 anak yang lain dan ucapan yang sampai saat ini masih teringat dibenak saya dari guru tersebut adalah
"Hai, Cepat lari, Pemimpin upacara tidak bisa lari, cepat, besok ganti saja pemimpin upacaranya, jangan kamu !!!" dengan nada keras dan menghentak.
Saat itu saya berhenti berlari lalu berujar "pak, jika mau mengganti pemimpin upacaranya, silahkan ganti saja, saya juga tidak pernah meminta menjadi pemimpin upacara", lalu saya pergi meninggal mereka tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Waktu itu saya hanya berfikir, kalaupun akhirnya saya dilahirkan tidak sama dengan anak anak lainnya, lalu pantaskan saya menghujat dan mengeluh seakan akan saya tidak suka dan protes dengan bentuk dan fisik ini?. Semua orang bisa lari, yang membedakan cuma cepat atau lambatnya. Saya kecewa sejak saat itu. Sejak saat itu pula saya tidak pernah mengingat nama guru olahraga tersebut. Saya hanya mengingat benar raut mukanya.
Saya juga ingat bagaimana raut muka guru olahraga itu saat melihat saya ikut perkemahan saat mewakili SMP saya. Dia hanya bertanya "kamu ikut juga?", dan saya hanya menjawab "ia,pak". Mungkin dia berlalu dengan seribu tanya,"mengapa anak selemah itu masih mengikuti acara seperti ini?". Sejak kecil saya berlajar memahami perbedaan dan keterbatasan masing masing, karena saya juga berbeda dan terbatas, tapi ternyata pemikiran seperti itu tidak saya dapatkan dari guru olahraga di SD saya.
Sekali lagi, kejahatan pada anak bukan melulu tentang kejahatan seksual, hal yang sepele tapi juga sama menakutkannya dan kita acap kali mengabaikannya.
Kata terakhir dari saya, Jika Anak mu dibesarkan dengan kekerasan (apapun itu bentuknya) maka dia akan belajar membenci orang lain, tapi jika anak mu dijarakan dengan kasih sayang, maka dia akan belajar memahami dan menerima orang lain.
Kamis, 24 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar