Senin, 16 September 2013

Kenapa Ga Bisa Kaya Semut ?

Standard
Senin, 16 September 2013. Ini akan jadi hari pertama untuk sebagian orang. Ada yang pertama masuk kuliah, atau hari pertama kerja ? mungkin. Hari ini, otak saya masih menerawang dan mencari sebuah kesimpulan akan beberapa hal yang terjadi. Meskipun bukan perkara yang rumit, akan tetapi cukuplah membuat saya berfikir sebab akibat mengapa demikian. Mungkin memang tidak seperti mengapa hujan tidak selalu turun waktu mendung ?, mengapa tidak adalagi pelangi tahun tahun ini (beberapa tahun terakhir saya sudah tidak pernah melihat pelangi.).


Beberapa hari terakhir bulan ini saya mencoba mencari alternatif untuk sarapan, mencari sesuatu yang tidak terlalu berat namun cukuplah untuk sekedar bertahan sampai nanti siang. Ternyata, mencari alternatif sarapan jauh lebih mudah ketimbang mencari alternatif untuk mengisi kekosongan hati, karena jika saya mencari alternatif itu akan banyak sekali perbandingan dan pertimbangan yang muncul, bukan melulu soal cantik atau tidak cantik, bukan tentang itu. Alternatif pemikirannya akan sangat bercabang, seperti kasus kenapa ada angka 2, angka 2 bisa didapat dengan =

1+1
2-0
4-2
3-1
5-3

dan terus berlanjut yang lain. Banyak dan beragam bukan ?.

Nah, kembali lagi dalam situasi mencari alternatif sarapan, maka pilihan saya jatuh pada gorengan. Kenapa ? selain murah barang ini lumayan untuk mengganjal lapar. Beberapa hari berlalu, masalah saya akan sarapan terselesaikan dengan sangat baik dan cepat juga bijak. Hidup seakan disurga jika seperti ini, semua serba mudah dan murah. Sempurna.


Akan tetapi, saya memang harus mengakui bahwa saya tinggal dibumi, sebuah tempat dimana penghuninya bernama manusia, hewan, dan tumbuhan, disebuah tempat dimana banyak yang bilang bahwa manusia mahluk yang bersahabat dan sosial. Padahal, menurut saya manusia hanya sebatas mamalia yang tidak lebih dari mahluk buas berbentuk imut, atau mungkin bisa dikatakan sebagai

"singa berbulu manusia"
Masalah dengan yang namanya gorengan datang beberapa hari kemudian, beberapa kucurigaan muncul, pertama dan yang paling gencar mengeluarkan asumsi asumsi perihal gorengan ini adalah "oji". Beberapa kecurigaan itu muncul disebabkan oleh ;

1. Gorengannya tidak layu meski didiamkan sampai sore hari, bahkan masih tetep renyah,
2. Gorengannya membuat perut jadi terasa penuh dan panas, bahkan beberapa hari kemudian dimasukan juga kecurigaan kenapa saya tidak merasakan lapar sampai malam hari ?, saya hanya akan makan jam 8 malam setelah makan gorengan jam 8.30 pagi.
Kenapa Ga bisa kaya semut ?


yap, sudah ada beberapa hal yang patut membuat saya harus melakukan analisa dan pengamatan. Kasusnya akan sama seperti saya akan menganalisa seorang cewe, tapi tidak lebih rumit.

Untuk memecahkan masalah diatas, saya melakukan pendekatan personal terhadap gorengan, saya harus pastikan dia nyaman disamping saya, agar saya  bisa mengambil keterangan, keterangan dari sang gorengan. Akhirnya (biar saya terkesan seperti ilmuan ) saya akan melakukan penelitian.

Langkah pertama yang akan saya lakukan terhadapa gorengan tersebut adalah ? membakar gorengannya. Ia, benar, akan saya bakar.  Setelah saya bakar, saya mendapatkan hasil bahwa, ternyata gorengan jaman sekarang bisa digunakan sebagai energi alternatif tambahan (jika minyak, gas, batu bara dan lain sebagainya sudah habis) ini disebabkan oleh gorengan yang menyala saat saya bakar, bahkan apinya sangat konstan dan lama. Ide saya pasti akan disambut baik oleh Menteri ESDM, semoga. Itu penelitian dan langkah pertama.

Yang kedua, Ternyata didapati hasil bahwa gorengan tersebut tidak di "grumuti" semut (saya tidak bisa menemukan kosa kata yang tepat untuk menggantikan kata "grumuti" yang dalam bahasa indonesia artinya "dikelilingi"). Ini jelas tidak wajar dan ganjil. Semut dalam hal ini mungkin memang sehati dengan saya, dia termasuk pribadi yang suka gorengan dan makanan makanan berminyak yang lain. Mungkin kita bisa jadi pasangan yang cocok dan serasi. Ketidak adaan semut terhadap gorengan yang saya biarkan benar benar mengusik nalar dan logika saya. Saya merasa tidak dihargai, karena niat baik saya berbagi dengan semuk tidak mendapatkan respon yang baik, saya juga merasa dicuekin. Sungguh semut terlalu. Sejak kejadian ini saya mengurungkan niat untuk melanjutkan persahabatan denga semut. ^_^.

Dari beberapa hal diatas saya bisa sudah bisa mengambil keputusan untuk diri saya sendiri, dan tidak akan mempengaruhi satu orang pun terhadap apa yang saya yakini saat ini. Saya tidak akan memberikan asumsi asumsi atau kesimpulan kesimpulan tentang gorengan tadi, karena itu mungkin akan mencederai beberapa pihak, saya lebih memilih untuk mencari alternatif sarapan yang lain.

Akhirnya saya dapatkan sedikit pelajaran kecil dari semut, bahwa semut, meskipun dia kecil dia bisa membawa beban yang 100x lebih berat dari berat badannya, akan tetapi kita sebagai mamalia yang katanya paling sempurna selalu mengeluh dengan beban beban yang kita pikul. Kita terlalu sering mengumbar kata "kenapa aku begini ?", "kenapa kamu ga mau ngertiin aku ?", "kenapa kamu mantannya banyak ?", "kenapa saya sakit ?", "aduh kok ujan si !", "aduh, bingung ni nda punya kerjaan !","aduh, cwo ku nyebelin dech !". Terlalu sering kan ?.

Satu lagi hal yang menarik dari semut, dia tau dimana gula berada, dia tahu mana yang benar benar manis, dan mana yang cuma pura pura manis. Menakjubkan.

Kenapa ga bisa kaya semut ?.

0 komentar: