Selasa, 17 September 2013

Kita Itu Seperti Gula dan Kopi

Standard
Semalam lagi lagi saya harus terpejam jam 1 lebih, sudah beberapa hari ini berjalan seperti itu. Bukan karena banyak kerjaan, bukan pula karena tidak bisa tidur, bukan. Kalau sudah seperti itu, biasanya saya akan bangun dengan kepala yang berat, muka yang masam, dan mata yang mulai agak kesipit sipitan. Tunggu dulu, apa benar sipit ? saya rasa tidak.

Sudah hampir satu tahun saya disini, tapi belum ada satu hal istimewa pun yang saya lakukan, Saya mencoba menggali tapi buntu, mencoba mencari tapi hilang, mencoba menunggu tapi lenyap. Semua serba kabur. Jika semua jawaban dari semua ini ada dalam diri sendiri, maka sejatinya saya hanya mencari jawaban jawaban kosong lagi semu. Kasus nya mirip seperti kamu mulai bosan dengan sebuah hubungan tertentu, semua memang akan menemukan titik jenuhnya. Pertanyaannya, jika titik jenuh itu sudah datang maka apa yang akan kita lakukan ?. Semua orang pasti punya jalan pikirannya masing masing, mereka akan mencoba mencari solusi dari rangkaian benang kusut tadi. Mungkin sebagian orang akan memilih jalan "pintas" karena itu memang selalu dianggap pantas.
kita itu seperti gula dan kopi

Kopi, ya kopi. Kopi memang selalu jadi pilihan saya. Saat harus bangun dengan kepala berat dan muka masam. Melihat kopi dengan rupanya yang hitam kadang pekat, yang kadang pula banyak ampas dan terkesan kotor, tapi selalu memberikan aroma yang pas, ga pernah setengah setengah, memberikan saya sebuah ilustrasi. Akankah kita memang sudah seperti gula dengan kopi ? manis dengan pait ?.

Kopi terdiri dari beberapa unsur unsur senyawa kimia, maaf, bukan itu maksudnya. Kopi terdiri dari air, gula dan kopinya itu sendiri. Mari kita uraikan benang kusut dengan nama kopi.

Pertama air, dimana pun kamu berada, apapun yang kamu buat, sedang apapun kamu, air adalah unsur yang paling penting. Jika kita ibaratkan terhadap sebuah hubungan yang dibina oleh para ABG dengan "cinta" yang mereka sanjungkan, maka unsur "air" dalam kopi bisa kita ibaratkan sebagai "cinta" itu sendiri. Tapi jika memang demikian, persoalan selanjutnya dengan tokoh "air" yang lantas kita asumsikan sebagai "cinta" itu mulai muncul. Jika semua kata "air" dibawah ini kita ubah jadi "cinta" maka kesan apa yang akan kamu dapatkan ?

"air sungai bengawan solo meluap karena hujan yang turun satu minggu ini"
jika diubah dan menghilangkan kata yang tidak perlu maka menjadi ==> ?

"sumber air sudah dekat" maka dirubah menjadi ==> ?

Sudah. Cukup. Sampai disini saya tidak mau lagi melanjutkan pengasumsian-asumsian yang konyol lagi tak bermakna. Bagi saya "air" adalah tentang "hidup". Jadi, jika saya menjalin hubungan dengan kamu, bukan hanya sekedar cinta, karena tidak sedangkal itu. Tapi, tentang hidup. Ya, tentang hidup, lebih keren kan ?.

Lalu kemudian tentang gula dan kopi, saya tidak akan mencoba memisahkan gula dan kopi lalu membuat perumpamaan masing masing. Seperti saya tidak akan menghalangimu untuk mengingat kenangan lama mu, apalagi jika itu merupakan hal paling "sejati" dalam hidupmu. Gula dan kopi, itu mirip kaya aku dan kamu. Entah siapa yang manis dan siapa yang pait, karena sejatinya bukan tentang mana atau siapa yang manis dan mana yang pait. Akan tetapi tentang, bagaimana gula dan kopi ini menjadi satu takaran yang pas hingga terciptalah satu cangkir kopi yang nikmat. Kadang kita lupa, gula mau semanis apapun atau seenak apapun kalau kebanyakan jatuhnya jadi kopinya kemanisan. Akan tetapi kita juga sering lupa, kopi mau apapun mereknya kalau kopinya kebanyakan akan jadi pait. Disini yang harus kita sadari, bahwa kita harus jadi gula dan kopi dalam ukuran yang pas. Tanpa pedulikan siapa kopi atau gulanya.

Kita itu seperti gula dan kopi.

0 komentar: