Jumat, 06 September 2013

Seperti Bajing Loncat

Standard
Kamu pasti tahu ungkapan bajing loncat kan ?, kalo kita definisikan satu satu perkata maka mungkin akan jadi 'bajing yang suka loncat loncat'. Karena dia suka loncat loncat maka pasti dia tidak punya satu tempat yang tetap, dia tidak akan pernah berhenti meloncat dari satu tempat ke tempat yang lain. Selalu dan akan terus seperti itu.

Lalu, sadarkah kita, kalo sebenarnya pun kita sudah seperti bajing loncat ?. Tanpa sadar sebenarnya kita sudah seperti bajing loncat. Yang selalu, berpindah tempat dari satu tempat dan ke tempat yang lain. Tempat disini memang bukan menunjukan suatu daerah atau lokasi tertentu. Hanya untuk menunjukan sesuatu dalam makna yang implisit.

Kenapa harus bajing loncat ?, apa tidak ada perumpamaan yang lebih macho dan keren ? yang lebih kelaki-lakian ?. Kalau saya memberikan perumpamaan yang lain itu sudah sangat kuno dan terlalu sering digunakan. Susuatu hal ataupun barang yang sering digunakan akan sangat terasa membosankan. Seperti Jablay yang sering dipake om om, lalu kamu pake berikutnya ?, setelah kamu pakai maka penyakit selanjutnya mengintai mu.

Kita seperti bajing loncat untuk urusan cinta. Ya, untuk urusan itu kita memang seperti bajing loncat. Loncat dari satu Relations ke Relations yang lain. Berpindah dari satu hubungan gagal ke hubungan gagal yang lain. Seakan akan kita maju untuk Move On  tapi sebenarnya tidak. Kita gagal dan diam ditempat. Adakah suatu jaminan, saat kita meninggalkan suatu hubungan yang kita anggap gagal ke hubungan yang lain, lalu akan berjalan dengan lebih baik ? saya rasa tidak. Semua akan menemukan titik jenuh pada waktunya persis seperti Video streaming yang akan buffering pada waktunya. Kita cuma tidak mau dicap gagal atau pecundang saat kita akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan baru. Kita ogah untuk disebut tidak Move On. Kita gengsi saat melihat seseorang yang kita tinggal sudah menjalin hubungan baru dengan yang lain. Saat kita berpindah dari satu hubungan ke hubungan yang lain kita tidak pernah memperdulikan ungkapan yang selanjutnya. Kita tidak pernah memikirkan ungkapan "sepandai pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga".

Ungkapan diatas sebenarnya mengajarkan bagaimana hasil jika kita hanya akan terus berpindah pindah dari satu hubungan ke hubungan yang lain. Terlalu banya mantan hanya akan menghasilkan banyak perbandingan. Dalam benak kita akhirnya terbesit pola pikir, kenapa dia ga kaya dia ya ?, kenapa dia ga kaya dia ? dan terus berkembang dengan dia dia yang lain salin sambung menyambung, mungkin suatu saat nanti kamu bisa bikin partai dengan jumlah mantan mantanmu itu. Hebat.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Resiko punuya pacar blogerr thuu gini nii...