Suatu waktu, kadang penulis amatir seperti saya akan mengalami kering ide, miskin gagasan dan hilang kreatifitas. Saya sering beranggapan bahwa menulis itu butuh ketenangan jiwa, kedalam berfikir beserta dengan jiwa yang matang. Kita harus memiliki semua itu agar bisa mengubah hal biasa menjadi layak diperbincangkan lalu kemudian di kupas secara tajam se tajam singlet <ini apaan si ??, kok jadi ga jelas gini?>>. Paling tidak harusnya memang seperti itu, kalau tidak seperti itu nanti yang muncul hanya akan topik topik lama yang membosankan.
Yang terjadi selama ini, kita hanya sering mengulang tema tema yang sama setiap kali bahkan setiap waktu. Misalkan, kamu bisa bikin Stop Motion Tween di Flash, lalu apakah kamu hanya akan mengulang ngulang itu terus ?. Kesannya jadi cemen banget kan ?, persis seperti banci salon yang masang tato biar agar macho tapi malah jadi keliatan geli!. Kadang kamu harus keluar dari zona nyaman mu terhadap suatu hal, agar kamu bisa lebih berkembang. Pilihannya itu cuma 2, berkembang atau diam ditempat. Apalagi untuk orang orang seperti saya yang sangat mudah bosan pada suatu materi. Mungkin saja kemarin saya senang dan gemar dan senang terhadap suatu materi A, tapi mungkin pada kurun waktu tertentu saya akan sangat bosan jika itu kembali diulang. 5 kata yang bisa saya ucapkan untuk materi materi yang diulang ulang, bosan, bosan, bosan, bosan, dan bosan.
Sampai disini saya akhirnya berkesimpulan, kadang kala kita harus jadi kepompong dulu untuk jadi kupu kupu. Maksudnya apa ?. Begini. Ulat selalu makan daun setiap waktu, kita juga makan nasi setiap hari ?. Meski dalam konteks ini saya yakin anda tidak mau disamakan dengan ulat karena kesannya terlalu cemen <-__-, ngakak>. Tapi begini, cobalah perhatikan ulat, setiap hari dia merambat, merayap dari satu daun kedaun yang lain. Makan dari satu daun kepohon yang lain. Lama , leled dan sangat membosankan. Dalam kasus ini saya menemukan kecocokan antara kebosanan yang dialami ulat dengan kebosana yang dialami para pelaku LDR (long distance relationship). Ga nyambung kan ?, bagi saya itu nyambung. Bayangin saja, saya yang liat ulat jalan sambil makan daun saja bosan apa lagi si ulat ? (dalam hal ini, saya bertanya bertanya kenapa saya jadi care sama ulat ?). Mungkin sambil jalan tadi ia akan menyemangati dirinya sendiri dan bilang dalam hati "pucuk, pucuk, pucuk". Ngakak. Maka tidak salah akhirnya jika dia memutuskan untuk diam sejenak dari kebosanannya dan jadi kepompong. Kadang diam untuk hal yang sudah membuat kita bosan akan lebih baik dari pada terus berbuat tapi tidak iklas. Itu cara paling bijak. Dalam diam mungkin kita akan menemukan ide ide baru, gagasan gagasan baru dan tentunya semangat baru. Saat sudah saatnya nanti setelah selesai meditasi atau proses kepompong ini kamu akan terlahir kembali dalam bentuk yang lebih keren, cool, cantik dan pasti sangat menggoda. Kamu akan hadir lagi salam bentuk yang kaya ide, kaya gagasan dan semangat pembaharuan dan pemimpin perubahan (ehh, kata terakhir malah jadi kaya kampanye presiden). Semua akan terasa lebih indah dan mudah. Persis seperti kepompong yang akhirnya jadi kupu-kupu.Setelah jadi kupu kupu, semua akan lebih mudah. Dia tidak perlu lagi merayap sekarang dia terbang, tidak perlu lagi makan daun, sekarang dia makan madu. Keren. Sepeti itu lah hidup.
Kata terakhir dari saya, jadilah kepompong untuk jadi kupu-kupu.
Sabtu, 07 September 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar