Beberapa hari ini saya sedikit terusik dengan polah dan sikap manusia, yang seakan akan jadi kita jadi predator untuk pemangsa lainnya. kenapa demikian ?, ternyata kita lebih buas dari predator aslinya, kita lebih kejam dari macan si raja hutan. Banyak landasan kenapa saya bicara demikian. Sebuas buasnya macan ia tidak akan memangsa saudaranya sendiri, sekejam kejamnya predator ia juga tidak akan menghabisi keluarganya sendiri. Selupa lupanya mantan saya yakin dia juga tidak akan melupakan kenangan bersama mu. Sip, begitu kira kira.
Begitu banyak hal yang seakan akan menempaktan kita sebagai predator utama, meski dalam hal ini kita memang termasuk jenis mamalia omnivora karena bisa memamakan segala macam. Tapi, sekali lagi, macan tidak mungkin memangsa ayahnya sendiri. Tapi itu tidak berlaku untuk mamalia bernama manusia seperti kita. Kita bisa memakan dan menghabisi pendahulu kita, makan disini bukan makan yang sebenarnya. Kita memakan mereka dan melupakan apa yang ia telah korbankan untuk kita dan negara dengan nama Indonesia.
Mungkin sedikit yang tahu, padahal ini muncul berkali kali di media cetak dan media televisi, saya yakin ini pasti terjadi karena anda terlalu sering menonton "tukang bubur naik haji". Mungkin sedikit yang tau bahwa Tim 17 (yang berisi anggota parlemen dan politisi ) mengusulkan beberapa pergantian nama jalan di jakarta guna menggenang jasa jasa mereka. Diantaranya ada nama IR. Soekarno, M. Hatta dan Soeharto serta Ali Sadikin untuk menggantikan nama jalan merdeka utara dan sebagainya di jakarta. Maka selanjutnya timbul lah polemik, pro dan kontra. Nama Soeharto dan Ali Sadikin dianggap tindak pas untuk menggantikan nama jalan yang ada (padahal cuma nama jalan, apa masalahnya buat mereka ?, wong nama jalan mau diganti jadi Jalan Spideman , gang Batman atau jadi jalan Iron Man menurut saya ga jadi soal. Karena cuma nama jalan tok!. Akan jadi masalah kalo nama jalannya diganti menjadi Jalan Asmara gang bercumbu. Itu baru ga pas pake banget.). Mulai lah mereka mengungkit ngungkit dosa lama, ini kenapa kita masuk sekejam kejamnya predator. Padahal dalam suatu hadist, dijelaskan jangan lah kita mengungkit ngungkit dosa orang mati, karena sama saja kita memakan bangkainya. (maav karena saya tidak terlalu berkompeten di bidang hadist dan agama jadi saya tidak dapat menyalinkan ayat beserta terjemahannya.).
Mulai dari Ali Sadikin. Dia adalah mantan Gubernur DKI Jakarta. Kalau semua orang mau jujur, dia lah tokoh dari berhasilnya jakarta sebagai kota metropolitan. Kalau pun saat ini jadi morak marik, macet dimana mana dan langganan bajir, itu karena salah urus pada masa sekarang. Apakah tidak pantas kita memberikan penghormatan guna sedikit membalas semua jasa jasanya dengan sekedar mengabadikan namanya sebagai nama jalan ?. Toh, ini cuma nama jalan. Tidak akan mengganggu hajat hidup orang banyak, tidak pula akan mengurangi pendapatan kalian ?. Tapi kita memang sekejam kejamnya predator. Bahkan lebih kejam dari para pelaku pelaku PHP yang memberikan harapan kosong pada para gebetannya. Kejam.
Selanjutnya Soeharto, sepertinya ini akan panjang, mungkin akan sepanjang masa pemerintahannya juga. Orang orang yg pernah sakit hati pada masanya, para tokoh tokoh politik tersakiti (seperti para cowo yang gagal dapatin cewe pujaannya ) langsung geram dengan nama ini. Dia dianggap dalang dari semua dalang (mungkin dalang parto juga termasuk didalamnya, hahaha, sepertinya saya terlalu banyak nonton OVJ) dari semua pelanggaran HAM, kerusuhan masa lalu, dan korupsi. Meski pun saya angkatan 90an yang sedikit mengalami masa orde baru dan lebih banyak reformasi, tapi sepertinya saya bisa sedikit kasih referensi dan masukan.
Pertama dan hal yang paling mudah, dia berkuasa 32 tahun, pasti dia sudah menghabiskan separuh lebih dari hidupnya untuk mengabdikan untuk negara konyol ini. Mulai saat masih jadi tentara dan presiden. Dia rela membuang semua seluruh masa hidupnya demi negri ini. Hebat. Kedua, percaya tidak percaya, suka tidak suka, papan sandang pangan lebih mudah pada masanya. Dulu, saya yakin petani tidak akan bingung mikir pupuk, sekarang ? pupuk hilang dari peredaran dan mahal. Ngenes. Dulu, Beras kita lebih bahkan di ekspor, sekarang ?, sawah nya sudah jadi mol atau perumahan, kedelai saja kita ngimpor dan mahal pula. Padahal itu bahan membuat tempe, dan tempe itu makanan rakyat. Sekarang rakyat tidak bisa makan. Konyol. Saat anda baca tulisan ini, mungkin akan ada yang bilang dalam hati "tapi kan dia korupsi, pelangaran ham tri sakti, pembataian misterius dll ", jika ada dalam hati bicara seperti itu andalah predator sesungguhnya. Mungkin benar peribahasa yang bilang "becik ketitik ala ketara", tapi seharusnya kalian juga tidak lupa dengan peribahasa "mikul nduwur, mendem jero".
Karena saya tidak ingin lagi menambah polemik polemik yang ada maka pesan saya. Jangan jadi predator untuk pemangsa lainnya. Ingatlah "MIKUL DUWUR MENDEM JERO".

0 komentar:
Posting Komentar