Kamis, 12 Desember 2013

Berharap Emas Dari Semak Belukar

Standard
Berharap Emas Dari Semak Belukar - . 

"mereka bukan INDONESIA, mereka hanya andik, diego michel, pahabol,bayu gatra dll, mereka tidak akan jadi pemenang, selama tidak jadi INDONESIA"
Baru saja berakhir partai ke dua cabang sepakbola SEA Games 2013 Myanmar, dan kenyataannya indonesia harus mengakui keunggulan Thailand, negara yang besar dan luasnya saja tidak seberapa dari pulau jawa. Bahkan dengan skor yang bisa saya bilang cukup memalukan. 1-4. Payah!.

sepakbola memang bukan tentang seberapa besar luas negara tersebut, justru karena itulah, seharusnya indonesia bisa 2 atau bahkan 3 tingkat diatas thailand. Ya, tapi inilah sepakbola, luas negara saja tidak akan cukup membuat kita bisa dikenang dunia dan dikenal dunia karena sepakbolanya. 

lalu kenapa kekalahan ini terasa sangat mengecewakan, bahkan kita memang sudah lebih sering kalah oleh thailand sebelumnya. mungkin satu, karena timnas u-19. Ya, mereka membuka mata semua orang di negri ini, bahwa sepakbola bisa kembali jadi harapan sekaligus kebanggaan. Bagaimana tidak, Korea selatan saja mereka kalahkan 3-2. suatu hal yang belum atau bahkan malah tidak bisa disamai oleh para senior seniornya yang lain. Disaat BP (Bambang Pamungkas) pensiun tanpa satu gelar internasional pun, mereka sudah lebih dulu menggenggam 3 gelar internasional. Sungguh sesuatu yang mungkin tidak akan bisa disamai oleh andik dan teman temannya. 

mari mencoba mencari sebuah analisis dan syukur syukur bisa memberikan solusi kenapa timnas U-23 atau bahkan senior tidak secerah timnas U-19, dan tentunya tanpa maksud membanding bandingkan yang akhirnya akan menjadikan beban kepada pihak pihak yang seolah tidak "diuntungkan" dalam hal ini. 

ada beberapa perbendaan yang sangat mendasar dan sangat menonjol jika kita melihat dari segi permainannya. Timnas senior ataupun timnas U-23 seperti bermain tanpa konsep yang jelas. Mereka terlalu mudah melepaskan bola lambung, padahal dilain sisi, kita harus sadar bahwa postur kita jauh lebih kecil dan munggil. Memainkan bola lambung adalah hal yang konyol dan jelas tidak bijak. 

Sepakbola kadang juga bukan tentang menang dan kalah semata, tapi tentang kebanggaan dan perjuangan. Inilah yang tidak bisa saya lihat pada laga tadi. pemain bermain tanpa kebanggaan dan tanpa perjuangan bahkan jika tadi hanya kalah 1-0 pun, itu juga akan sama memalukannya. Mungkin karena mereka sudah lebih dulu sukses dan terkenal secara personal. Sekarang, siapa yang tidak kenal RD (Rahmad Darmawan) pecinta sikulit bundar pasti mengenalnya. Apa lagi yang harus dia buktikan untuk menunjukan bahwa dia pelatih hebat di negri ini ? gelar bersama klub sudah kenyang ia dapatkan. Hingga urusan meracik Timnas ia lakukan seolah setengah hati, (saya yakin RD tidak akan suka dengan kalimat saya ini, atau bahkan anda yg termasuk penyuka RD juga akan sangat keberatan dengan gagasan saya). Lalu kemudian Kurnia Meiga, Lencana lemarinya pasti sudah mulai penuh dengan beberapa mendali, dan kalau boleh jujur, setelah dia kebobolan 20 gol dalam 3 laga (lawan arsenal, Mu, dan chelsea, *kalau tidak salah ingat)  performanya menurun sangat jauh. Kemudian Diego Michel ? ahh, gayanya tidak sementerang karir sepakbolanya. Andik ? kemampuanya sudah terekspose ditimnas senior hingga tidak adalagi yang istimewa darinya. Dengan demikian maka ada satu benang merah yang dapat diambil. Mereka matang sebelum waktunya. Hingga sekarang, kita hanya bisa meninkmati "bosok"nya saja.

"kita tidak akan bisa mengalahkan lawan siapaun itu, selama menjadi perorangan, kita butuh menjadi satu, dengan nama kesebelasan"

0 komentar: