"kita memang akan saling berpapasan suatu hari kelak, tapi saling membelakangi lagi kemudian"
saya buka tulisan ini dengan judul seperti yang kita bisa baca diatas. menyambut pemilu, sebagai salah satu generasi muda maka saya mencoba ikut bersumbangsih untuk kemajuan bangsa, melalui tulisan ini. Tulisan yang saya yakin tidak akan banyak dibaca orang, tulisan yang saya yakin juga (mungkin) tidak akan banyak dihiraukan orang. Tapi, apapun itu, inilah sedikit sumbangan pemikiran saya untuk bangsa ini. Karena saya hanya seorang penulis (meskipun dilain sisi saya juga seorang mahasiswa dan juga pengajar) maka bentuk sumbangan saya untuk negri ini baru sebatas tulisan tulisan saja. Saya tidak akan menggunakan jalur demo untuk menyuarakan aspirasi dan pemikiran saya, karena saya pikir, demo demo di negri ini tidak bernalar dan tidak memiliki subtansi yang jelas. Demo dinegri ini hanya sebatas pertunjukan keangkara murkaan dan jauh dari aspirasi dan suara rakyat. Bahkan mahasiswa yang katanya selalu mencoba menyuarakan suara rakyat saat berdemo, tidak lebih dari sekedar kumpulan mahasiswa mahasiswa pencari jatidiri dan "dileboni" unsur unsur anarkisme yang akhirnya berujung kericuhan. Lalu, itukah suara rakyat ?
Tidak terasa 2 periode masa kepepimpinan SBY akan segera berakhir, lalu kemudian tongkat estafet pemimpin bangsa akan diteruskan kepada penerusnya kelak. Apapun yang sudah terjadi selama 2 periode masanya SBY itu, saya pikir dia sudah melakukan semua yang ia bisa lakukan untuk negri ini. Toh, jika pada akhirnya ada satu, dua atau bahkan beberapa kasus yang terjadi pada masanya, maka seharusnya itu tidak lantas memudarkan saya terima kasih kita kepada SBY yang sudah bekerja selama 24 jam X 10 tahun lamanya. Toh kita juga tidak akan bisa menemukan pemimpin yang benar benar sempurna yang mampu memuaskan hai lebih dari 230 juta penduduk negri ini. Bagi saya, tidak penting membahas apa yang telah dilalui SBY selama 2 periode, karena itu hanya semua catatan sejarah dan bagian dari masa lalu yang hanya perlu kita ambil sebagai pelajaran, andai kita bisa lebih bijak tentunya. Akan jauh lebih menarik bagi saya, untuk melihat dan mencoba sedikit membahas bagaimana negri ini kedepannya.
Para calon suksesor SBY jelas sudah mulai bermunculan satu persatu, dari mulai kesatria bergitar Rhoma Irama, bahkan sampai beberapa penguasa media ikut mencoba mencari peruntungan untuk bisa menjadi pengganti SBY. Saya selalu bertanya, "apa enaknya jadi Presiden hingga begitu banyak orang berebut untuk posisi itu". Saat pertanyaan itu muncul, saya menggunakan pengalaman saya sebagai anak mantan kepala desa untuk mencoba mencari jawabanya. Meskipun mungkin tidak akan mendapat jawaban ynag 100% tepat, tapi palin tidak hanya inilah pendekatan yang bisa saya lakukan.
Saat beberapa tokoh diatas bermunculan satu persatu, maka saya mencoba sedikit membayangkan akan seperti apa wajah indonesia dengan pemimpin barunya. Misalkan saja jika nantinya akhirnya Rhoma Irama sukses jadi RI 1 maka akan menarik jika kita juga melihat Elvi Sukaesih untuk menjadi wakilnya. Karena jelas sewajarnya sang raja harus berdampingan dengan ratunya. Lalu, siapakah menteri menterinya ? mungkin bisa jadi Inul daratista akan jadi menteri pemberdayaan perempuan, untuk menpora, saya pikir ridho roma, selain karena muda, dia juga sedikit berkumis. Pas kan ?. Kalau semua ini terjadi, sungguh pemandangan parlemen yang indah.
Lalu bagaimana jika akhirnya penguasa media yang akan jadi pemimpin negri ini?. Ini adalah satu skenario yang saya tidak suka. Karena bagaimanapun juga, media haruslah netral. dan jika akhirnya media dikuasa oleh penguasa maka media tidak akan lagi menjadi netral. Indikasinya sudah mulai tercium dari sekarang, media penyokong ARB dan Win HT selalu menyediakan porsi yang berlebih untuk mendeskripsikan sosok ARB dan Win HT dalam bentuk yang lebih baik. Selain itu, media adalah satu alat yang sangat jitu dan tepat guna mempengaruhi pandangan pandangan masyarakat dan menciptakan image dikalangan masyarakat luas. selain itu juga, saya pikir media kita sudah lama "sakit" dan tidak adalagi tanyangan yang bermutu dan berkwalitas. Tanyangan tanyangan di beberapa stasiun TV hanya menyajikan aksi joget-jogetan, seakan akan negri ini baik baik saja, dan semua rakyatnya makmur, aman sentosa dengan joged-jogedan tersebut.
"tidak perlu mempermanis suatu hal buruk dengan mengatakan yang manis manis"

0 komentar:
Posting Komentar