Jumat, 20 September 2013

Karena Rumput Tak Selamanya Hijau

Standard
Hari ini saya sebenarnya bingung, mau mulai nulis dari mana dan ngomongin apa. Mau ngomongin cewe entar disangka lagi cari gebetan atau pendekatan, mau ngomongin uang, saya sendiri saja sedang tidak banyak uang, mau ngomongin utang ? kenapa jadi ngomongin masalah pribadi !. Jadi, kali ini biarkan otak ini menemukan jalannya untuk mau menulis apa. Mulailah dengan saya bertanya, apakah ada rumput didepan rumah mu ?

Saya percaya, sebagian besar dari kamu yang baca tulisan ini akan menilai pertanyaan tersebut tidaklah penting. Sama seperti pertanyaan kepada seorang cewe dibawah ini

"hai, cowo tipe kamu yang kaya apa ?"

Pertanyaan tersebut diatas juga sama tidak pentingnya. Karena saya yakin, delapan dari sepuluh cewe yang ditanyai seperti itu akan lantas jawab demikian,

"yang baik aja, pengertian dan bisa ngertiin aku"
 dia akan menjawab dengan ditambahi senyum manis, perhatikan senyumnya. Senyum disini sama pentingnya  seperti tanda bintang (*) dalam sebuah iklan produk. Jadi senyum (*) adalah menunjukan bahwa syarat dan ketentuan masih berlaku. Sadis.

Oke, kembali ke rumput. Gimana kabar rumput mu ? tapi tunggu dulu, jangan berfikir bahwa saya tukang rumput yang siap memanjakan rumput rumput mu, bukan , bukan saya itu. Saya cuma akan mencoba menarik pelajaran, dari hal yang namanya rumput. Rumput yang mungkin biasa kalian injak injak, rumput yang bisa kalian cabuti.
Karena Rumput Tak Selamanya Hijau

Percaya atau tidak, suka atau tidak suka, kita adalah rumput, rumput dalam bentuk yang lebih keren, rumput yang tidak cemen (seharusnya). Rumput, apapun jenis dan namanya pasti membutuhkan air agar dia terlihat lebih hijau, jika rumput mu tidak hijau mungkin memang kurang air, tapi jangan pernah berfikir bahwa rumput tetangga lebih hijau. Kita sebagai rumput yang lebih keren, apapun jenisnya juga membutuhkan air agar terlihat "hijau". Air disini pastinya konteksnya banyak dan beragam, semisal karir yang bagus, pendapatan yang terus meningkat, amal ibadah yang baik dan lain sebagainya. Akan tetapi, kita sebagai rumput yang lebih keren, tidak pernah memperhatikan keseimbangan "air" yang kita butuhkan. Kita seringkali terlalu sibuk dengan satu dan dua hal saja. Contoh mudah, seorang mahasiswa biasanya memang harus sibuk belajar karena itu memang kebutuhan "air" nya, akan tetapi sering kali mereka lupa, mereka sering kali terlalu sibuk dengan hal hal yang sifatnya sekunder. Misalkan, jadi aktifis kampus atau organisasi tertentu, pacaran atau malah sibuk liburan. Mereka lupa kalau mereka juga punya tanggung jawab dengan status mahasiswa yang mereka sandang plus slogan yang mereka agung agungkan sebagai "kaum intelek", mereka lupa kalau mereka harus mempertanggung jawabkan biaya yang sudah dikeluarkan orang tua, kakak atau saudara demi status mahasiswa dan kuliah mereka. Yang kedua, mereka lupa jika mereka juga punya tanggung jawab akan masa depan mereka, hal yang paling kecil adalah apa yang akan mereka lakukan setelah lulus kuliah ?. Pada sampai konteks ini saya masih percaya ungkapan yang bilang ,

"masa depan tidak ditentukan dari mana almamater kamu berada, akan tetapi masa depan kamu sendiri yang bikin"

ditambah juga ungkapan berikut,

"lunaklah kamu pada hidupmu, maka dunia ini akan keras padamu, keraslah kamu pada hidupmu, maka dunia ini akan lunak padamu" 

Akhirnya kita lupa bahwa karena rumput tak selamanya hijau. Kita selalu tak memperdulikan takaran "air" untuk kehidupan kita, padahal kita sebagai rumput selalu membutuhkan air untuk tetap hijau.

Akhirnya, satu poin yang saya dapat. Mungkin akhir akhir ini saya mulai melupakan takaran "air" saya, saya terlalu sibuk mengejar target (padahal dalam hal ini saya bingung target apa yang saya sedang kejar), atau mungkin saya terlalu lama jadi kepompong, diam tak menentukan sikap, hingga pada akhirnya, satu persatu mulai mengering. Nilai jadi C sama D, sungguh, karena hal ini saya jadi sering melamun. Perkara datang satu persatu. Mungkin sudah saatnya saya memperhatikan takaran "airnya". Karena Rumput Tak Selamanya Hijau.

0 komentar: